Sabtu, 29 September 2012

jenis-jenis belajar (new)


TIPE-TIPE BELAJAR

SAYA BARU SAJA CHANING-CHANING MENGENAI TIPE-TIPE BELAJAR, DARI E-MAIL
AND SUMBER DARI buku yang berjudul ”Teori Belajar dan Pembelajaran”, Prof. DR. H. Aminuddin Rasyad menjelaskan bahwa secara umum tipe belajar anak didik adalah tipe visual, tipe auditif, tipe taktil, tipe olfaktoris, tipe gustatif, dan tipe campuran (kombinatif), penjelasannya,
TERUS DIRANGKUM, SEBAGAI BERIKUT:

TIPE BELAJAR VISUAL
Ciri-ciri tipe belajar visual: lebih mementingkan pada penampilan dalam berpakaian/presentasi, tidak mudah terganggu oleh keributan, mengingat yang dilihat dari pada yang didengar, lebih suka membaca dari pada dibacakan, seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata, lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato. Anak didik yang mempunyai tipe visual pada umumnya lebih suka musik, mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya, mengingat dengan asosiasi visual. Jadi anak didik yang memiliki tipe visual mengandalkan aktivitas belajarnya pada materi pelajaran yang dilihatnya. Di sini yang memegang peranan penting adalah indera mata atau penglihatan (visual). Anak didik tipe ini gerbang pengetahuannya adalah indera mata, karena satu-satunya indera yang aktif dan dominan dalam dirinya adalah mata atau penglihatan. Baginya alat peraga sangat penting artinya untuk membantunya dalam penyerapan materi pelajaran. Dengan demikian pemilihan media yang tepat dalam pembelajaran sangat membantu untuk anak didik tipe ini.


TIPE AUDITORIAL
Ciri-ciri tipe belajar auditorial: gampang mengingat apa pun yang didengarnya. Bila menghafal ia sering membacanya keras-keras karena suara keras yang didengarnya memudahkannya mengerti. Ia juga suka diskusi dan berbicara dengan logika dan nada yang terpola.

TIPE KINESTETIK
Ciri-ciri tipe belajar kinestetik: belajarnya selalu menanggapi setiap pelajaran yang diterima dengan gerak fisik. Makanya ia cenderung mengajak lawan bicaranya disertai gerak fisik, maupun menggunakan jari dan tangan saat belajar. Ia pun lebih menyukai pelajaran yang diberikan dalam bentuk permainan karena pada dasarnya ia tidak dapat duduk dan berdiam lama saat belajar.

TIPE BELAJAR AUDITIF
Ciri-ciri tipe belajar auditif : saat bekerja suka berbicara kepada diri sendiri, mudah terganggu oleh keributan, belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat, senang membaca dengan keras dengan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca. Anak didik yang mempunyai tipe auditif pada umumnya pandai berbicara atau sebagai pembicara yang fasih, lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya, lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik. Anak didik yang mempunyai tipe auditif biasanya mempunyai masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visual, berbicara dalam irama yang terpola, dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, irama dan warna suara dari apa-apa yang telah didengarnya. Jadi anak didik yang memiliki tipe auditif mengandalkan aktivitas belajarnya pada indera pendengarannya. Di sini yang memegang peranan penting adalah indera telinga atau pendengarannya (auditif). Bagi anak didik tipe ini gerbang pengetahuannya adalah telinga. Karena itu baginya ucapan yang jelas dan terang dengan intonasi yang tepat sangat penting artinya untuk membantunya dalam penyerapan materi pelajaran.


TIPE BELAJAR TAKTIL
Ciri-ciri tipe belajar taktil: terampil melakukan sesuatu dengan mengandalkan sentuhan tangan. Anak didik yang bertipe belajar ini, yang memegang peranan penting adalah rabaan dan sentuhan. Anak didik yang seperti ini penyerapan hasil belajarnya melalui alat peraba, yaitu sentuhan tangan atau kulit. Misalnya: mengatur ruang ibadah, menentukan buah-buahan yang rusak (busuk), merangkai bunga, dan keterampilan-keterampilan lainnya yang sifatnya membutuhkan sentuhan tangan. Untuk itu, maka sebaiknya guru lebih menitikberatkan pada kegiatan yang secara langsung harus dikerjakan oleh anak didik. Jadi anak didik yang memiliki tipe taktil mengandalkan aktivitas belajarnya pada rabaan atau sentuhan (taktil). Di sini yang memegang peranan penting adalah indera peraba, yaitu tangan dan kulit atau bagian luar tubuh. Bagi anak didik tipe ini gerbang pengetahuannya adalah indera perabanya. Karena itu baginya sentuhan sangat penting artinya untuk mengetahui benda yang dirabanya. Ia sangat terampil apabila diberi tugas pada kegiatan yang sifatnya penataan atau pengaturan ruangan, penataan atau merangkai buah, merangkai bunga, mengatur seseatu yang membutuhkan sentuhan yangan.

TIPE BELAJAR OLFAKTORI
Ciri-ciri tipe belajar olfaktori: lebih suka belajar di laboratorium. Anak didik yang bertipe belajar ini, yang memegang peranan penting adalah ketergantunganya pada indera pencium. Anak didik seperti ini akan sangat cepat menyesuaikan dirinya dengan suasana bau lingkungan, sebab pada umumnya indera penciumnnya sangat peka terhadap bau-bauan. Untuk itu, maka sebaiknya Guru lebih menitikberatkan pada hal-hal yang berkaitan dengan indera penciuman. Jadi pada umumnya ia lebih memfungsikan indera penciuman, yaitu hidung. Jadi anak didik yang memiliki tipe olfaktoris mengandalkan aktivitas belajarnya pada alat indera penciuman. Di sini yang memegang peranan penting hidung (olfaktoris). Bagi anak didik tipe ini gerbang pengetahuannya adalah hidung. Karena itu baginya sangat cepat menyesuaikan diri dengan suasana bau lingkungan.

TIPE BELAJAR GUSTATIF
Ciri-ciri tipe belajar gustatif: lebih cepat memahami apa yang. dipelajarinya melalui indera kecapnya. Anak didik yang bertipe belajar ini, yang memegang peranan penting adalah lebih mengandalkan pada lidah (indera kecap). Untuk itu, maka sebaiknya Guru lebih menitikberatkan pada kegiatan belajar yang mengandalkan indera kecap, misalnya: dalam suatu kegiatan belajar yang berkaitan dengan rasa melalui lidah. Misalnya: rasa asin, manis, pahit, dan sebagainya. Jadi anak didik yang memiliki tipe gustatif mengandalkan aktivitas belajarnya pada indera pengecap. Di sini yang memegang peranan penting adalah kemampuan mencicipi (gustation=kemampuan mencicipi). Bagi anak didik tipe ini gerbang pengetahuannya adalah indera pengecap. Karena itu melalui indera pengecapnya ia dapat mengetahui berbagai rasa.

TIPE BELAJAR COMBINATIVE
Ciri-ciri tipe belajar combinative:
Anak didik yang bertipe belajar ini, yang mempunyai kemampuan mengikuti pelajaran dengan menggunakan lebih dari satu indera. Ia dapat menerima pelajaran dangan mata dan telinga sekaligus ketika belajar. Untuk itu, maka Guru tidak perlu menitik beratkan pada salah satu indera. Jadi anak didik yang memiliki tipe campuran (kombinatif) mengandalkan aktivitas belajarnya dengan menggunakan lebih dari satu inderanya. Di sini yang memegang peranan penting adalah mata, telinga, sentuhan, dan pengecap. Bagi anak didik tipe ini gerbang pengetahuannya bukan hanya mata, akan tetapi dapat menggunakan mata dan telinganya sekaligus ketika belajar.

Jenis2 belajar


Cara Belajar Efektif: Mengenal Tipe Belajar dan Mengenal Diri…

OPINI | 30 June 2011 | 11:09Dibaca: 4126   Komentar: 4   1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
Banyak orang berpikir jika anak dileskan maka anak tersebut akan cepat pintar dan mendapat hasil yang memuaskan. Hal itu tidak salah, tetapi bisa tidak efektif jika anak tersebut tidak cocok dengan sistem les private atau les di bimbingan belajar. Setiap anak tidak bisa menggunakan sistem belajar yang sama.
Untuk bisa belajar efektif setiap orang perlu mengetahui apa arti belajar sesungguhnya. Belajar adalah sebuah tindakan aktif untuk memahami dan mengalami sesuatu. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Jadi, proses belajar terjadi jika anak merespon stimulus (rangsangan) yang diberikan guru. Jika hal itu belum terjadi maka sang anak belum bisa dikatakan belajar.
Tipe Belajar
Cara efektif dapat dilakukan jika kita mengetahui apa tipe belajarnya. tipe belajar secara umum ada 3, yaitu:
  • Tipe Belajar Visual

  • Tipe Belajar Auditif

  • Tipe Belajar Kinestetik
Tipe Belajar Visual : Mereka dengan tipe ini lebih menyukai belajar ataupun menerima informasi dengan melihat atau membaca. Bila berkomentar demikian; Hal itu bisa sayalihat sekarang. Saya ingin mengetahui gambaran detailnya. Kelihatannya perbuatan orang itu benar. Saya bisa membayangkan betapa menderitanya anda. Saya harus menyusun dulu skema kerjanya.
Tipe Belajar Auditif : Seorang yang memiliki tipe auditif lebih senang belajar atau menerima informasi dengan mendengarkannya secara langsung atau secara lisan.Biasanya perkataannya; Perkataan orang itu kedengarannya benar. Saya dengarapa yang kamu bilang. Dengarkan saya dulu. Saya dengar anda tidak senang atas perlakuan orang itu.
Tipe belajar Kinestetik : Seorang anak yang memiliki tipe belajar Kinestetik sangat senang jika belajar sambil menggerakan/ menyentuh sesuatu, entah pulpen yang digoyang-goyangkan, kursi tempat duduknya, maupun belajar sambil berjalan atau menggerak-gerakan tubuhnya sendiri. Biasanya kata-katanya; Rasanya hal itu ada benarnya. Saya kesulitan menangani masalah itu. Coba beri saya contoh konkritnya.Saya masih belum menemukan kepastian. Sepertinya kata-kata orang itu bisa saya pegang.
Bagaimana Mengetahui Tipe Belajar?
Cara mengetahui tipe belajar kita adalah dengan mengenal diri sendiri. Siapakah anda akan menentukan bagaimana anda belajar. Ada 4 temperamen umum yang dikenal:
  • Si Ceria Sanguin

  • Si Pemikir Kolerik

  • Si perasa Melankolik

  • Si cuek Plegmatik
Jika anda mau menentukan anak anda temperamen yang mana maka anda bisa melihat ciri-cirinya sebagai berikut:
Si ceria sanguin:
periang, hangat, bersahabat, ramah, bersemangat, antusias, optimis, spontan, sangat terbuka, lugu, polos, murah hati, kreatif, tidak dendam, sombong, cerewet, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab, cepat bosan, haus pujian, manja, ceroboh.
Tipe belajar:
lebih menyukai belajar kelompok, belajar dengan gambar, belajar yang aktif dan bergerak, Tipe belajar visual
Si pemikir Kolerik :
tegas, pendirian kuat, aktif, mandiri, banyak ide, berpikir praktis, suka berkarya, berani, cepat bertindak, ceroboh, pemarah, kejam, keras kepala, sombong, sulit mengampuni.
Tipe belajar:
mandiri, belajar kelompok (menjadi pemimpinnya), cepat dan praktis. Suka dengan hal-hal ilmiah. Tipe Belajar Kombinasi Visual dan Auditif.
Si perasa Melankolik :
perfeksionis, setia, rela berkorban, cermat, teliti, tekun, disiplin, konsentrasi tinggi, berbakat seni, pemurung, cepat tersinggung, kurang bisa bergaul, mudah curiga, mudah stres, sulit mengampuni, teoritis.
Tipe belajar:
mandiri dan kondisi tenang, menyukai jika ada iringan musik, kuat dalam pelajaran seni. Tipe Belajar Auditif.
Si cuek Plegmatik :
tenang, kalem, suka damai, pemaaf, humoris, setia, bertanggung jawab, mudah bergaul, emosi stabil, lamban, pencemas, tidak tegas, sulit membuat keputusan, sulit menolak, cuek, hemat.
Tipe belajar:
berkelompok dan lebih suka dibimbing dan diarahkan, kurang suka berbicara, harus didampingi guru private. Tipe Belajar Kinestetik.
Semoga ini bisa menjadi masukan bagi kita untuk melihat anak kita dan juga bermanfaat untuk diri kita sendiri. Apakah tipe belajar kita? Semoga anda menemukannya…
Salam belajar efektif…
Nb: Artikel ini adalah bahan lokakarya belajar efektif yang dibawakan penulis. Sumber tulisan diambil dari berbagai sumber.

Jumat, 28 September 2012

Descriptive Text


Descriptive text
 The Function

Ø To describe a particular person, animal, place or things.

 Generic structure:

Ø Identification: Identifies phenomena to be describe

Ø Description: Describe parts, qualities, and characteristics.

Features:

Ø Focus on specific participants

Ø Use of attributive and identifying processes

Ø Use of simple present tense 

Example :
                   Vanessa-mae is a famous musician. She is 16 years old, but she is a world famous violist. Went she plays classical violin concertes on her electric violin, the world listensVannesa-mae is thai-chinese. Her mother is Chinese and here natural father is thai. She is from Singapore but she lives in London now.  

Taaruf


Bismillah,
Asumsikan anda sudah menemukan (yang anda rasa) jodoh anda. Maka, apa yang mesti dilakukan selanjutnya? Dari apa yang saya ketahui dan dengar selama ini, ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan. Pertama, ada yang langsung melamarnya, kemudian menikahinya. Anda boleh percaya boleh tidak, tapi praktik ‘to the point’ dan ‘gerak cepat’ seperti ini ternyata masih dilakukan oleh beberapa orang kenalan keluarga saya. Syukur alhamdulillah, pernikahan mereka langgeng.

Sementara, nomor dua, ada yang melakukan pendekatan dahulu. Seperti judul artikel ini, tak kenal maka ta’aruf. Apakah ta’aruf = pacaran? Adakah pacaran yang Islami?
Saya tidak ingin berpolemik dan debat kusir mengenai pacaran yang Islami. Akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membahas pacaran yang Islami. Masing-masing pihak akan mengeluarkan argumen dan dalil, yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan cenderung disesuaikan dengan keinginannya.
Jika kita merujuk ke istilah pacaran di jaman sekarang, istilah tersebut akan senantiasa berkonotasi negatif. Berdua-duaan, berpegangan tangan, berciuman, dan bahkan (naudzubillah) berhubungan badan. Dalih yang mereka (para pelaku pacaran) kemukakan, mereka ingin mengenal lebih jauh (calon) pasangan (suami/istri) mereka.
Memang dibolehkan mengenal lebih dalam calon pasangan kita. Tapi, jika hingga ciuman dan berhubungan badan, saya pikir tindakan tersebut sudah melenceng jauh dari tujuan semula.
Seharusnya yang dimaksud dengan mengenal adalah mengetahui sifat baik/buruk calon pasangan kita. Lalu mengetahui keadaan keluarganya. Berkenalan dengan calon mertua, calon kakak/adik ipar. Dan untuk mengetahui dan mengenal itu semua, rasa-rasanya tidak dibutuhkan kontak fisik yang berlebihan, seperti berciuman dan berhubungan badan.
Nah, yang dimaksud dengan ta’aruf adalah hal tersebut di atas. Berkunjung ke rumah (yang sudah dianggap) jodoh kita. Ngobrol dengan Bapak/Ibunya. Berusaha memahami dan mengambil hati calon mertua.
Boleh tidak bertemu dengan calon jodoh kita?
Boleh saja. Tidak ada larangan untuk itu. Namun, seperti yang saya katakan, hendaknya tidak berdua-duaan, walaupun berada di ruang tamu yang terang benderang. Hendaknya ada pihak ketiga, entah itu adiknya atau kakaknya. Bisa juga ayah/ibunya. Toh, intinya kan ingin mengenal.
Jangan lupa, pada saat ta’aruf, masing-masing pihak akan selalu bersikap jaim (jaga image). Selalu berkata lemah lembut, berperilaku sabar, mau mendengarkan. Bahkan untuk urusan (maaf) kentut pun akan dia tahan walau akan membuat perutnya mules sepanjang malam.
Saran saya, pada saat ta’aruf ini tidak perlu bersikap jaim. Sewajarnya saja. Namun diharapkan se-sopan mungkin, terlebih jika calon pasangan kita ternyata anak dari orang/tokoh terkemuka. Waaahh..mesti ekstra ketat menjaga perilaku kita, jika tidak ingin ditolak calon besan!
Lantas, informasi apa saja yang diperlukan untuk didapat selama ta’aruf? Saya akan menuliskan apa-apa saja berdasarkan apa yang saya ketahui dan alami. Jadi sifatnya sangatlah subyektif.
Coba anda cari informasi:
- tingkat ibadahnya
- sikap dan perilaku calon pasangan anda
- latar belakang kesehatan keluarganya
- visi dan misi calon pasangan anda
Hal yang boleh dalam ta’aruf:
- melihat wajah calon pasangan. tentunya tidak berlebih-lebihan, apalagi sampai membayangkan yang tidak-tidak. sudah fitrahnya manusia, menyukai yang indah/cantik/tampan.
- bertanya hal rinci mengenai keluarganya (lihat poin cari informasi di atas)
- pihak yang ditanya mesti menjawab dengan jujur
- mengajak ngobrol calon pasangan, selama tidak berduaan
- menggunakan mak comblang untuk mendapatkan informasi
Hal yang tidak boleh dalam ta’aruf:
- mengajak pergi calon, apalagi nonton bareng, berdua-duaan, karena akan menjurus ke zina.
- menyembunyikan cacat kepada si penanya
- menyentuh calon. “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginnya.” (HR Thabrani)
Beberapa dalil yang melarang berdua-duaan:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS.Al-Isra’,17:32).
“Bila seorang wanita berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, maka yang ketiganya adalah syetan” (HR Ahmad & Tirmidzi).
“Berkata Ibnu Abbas, Rasululloh SAW bersabda: Janganlah kamu berduaan kecuali dengan mahram.”(HR.Bukhari Muslim).
“Sesungguhnya ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan- angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya.” (HR Bukhari, Muslim & Abu Daud)
Mudah-mudahan membantu anda. amin...

bangkrut di akhirat ?!


Bismillah,
Jika membaca judul artikel ini, barangkali banyak orang bertanya-apa, apakah memang ada orang yang bangkrut di akhirat kelak? Mari kita tinjau hadits berikut ini.

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”
Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”
Rasululloh SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)
Penjelasan:
Dari hadits di atas, kita bisa simpulkan bahwa bangkrut di akhirat tidaklah sama dengan bangkrut di dunia. Jika di dunia, bangkrut identik dengan harta, maka bangkrut di akhirat berkaitan dengan amalan kita, entah itu kebajikan atau keburukan.
Seseorang akan dinyatakan bangkrut di akhirat jika amal kebajikannya tidak hanya habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan, namun dia harus mendapat ’sumbangan’ amal keburukan dari orang2 yang pernah dia aniaya/perlakukan tidak baik.
Hal yang bisa kita pelajari dari hadits di atas, hendaknya kita berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai menyengsarakan/merugikan orang lain. Karena di akhirat kelak, kebajikan bisa berkurang dan yang lebih repot jika malah amal keburukan yang bertambah.